KiBalangantrang dan Manarah(Suratoma) merencanakan untuk balas dendam kepada Tamperan dalam cerita rakyat kita mengenal Manarah sebagai Ciung Wanara, akhirnya penyerangan pun dimulai bersama pasukan geger sunten yang dibangun diwilayah Kuningan, Ciung Wanara menyarang galuh dalam semalam, semua ditawan tapi Banga dilepaskan,

67% found this document useful 3 votes22K views8 pagesOriginal Title[TUGAS] Bahasa Sunda - Legenda Ciung WanaraCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?67% found this document useful 3 votes22K views8 pagesTUGAS Bahasa Sunda - Legenda Ciung WanaraOriginal Title[TUGAS] Bahasa Sunda - Legenda Ciung WanaraJump to Page You are on page 1of 8 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 7 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.

Ceritarakyat Indonesia yang dipilih adalah cerita Ciung Wanara. Dalam cerita ini juga terdapat moral yang baik dan filosofi orang Sunda yang semakin dilupakan. Selain itu, masyarakat juga kurang mengetahui isi cerita ini. Oleh karena itu, diperlukan media yang dapat menarik anak-anak yaitu berupa buku cerita.
Ciung Wanara aksara Sunda ᮎᮤᮅᮀ ᮝᮔᮛ adalah legenda di kalangan orang Sunda di Indonesia. Cerita rakyat ini menceritakan legenda Kerajaan Sunda Galuh, asal muasal nama Sungai Pemali serta menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa yang tinggal di bagian barat provinsi Jawa Tengah.[1][2] Ciung WanaraPrabu SurotamaRaja Kerajaan GaluhBerkuasa739 – 783PendahuluTamperan BarmawijayaPenerusGuruminda Sang MinisriInformasi pribadiKelahiranManarah[butuh rujukan]718Kematian798Nama takhtaPrabu Jayaprakosa Mandaleswara SalakabuanaAyahPermana DikusumahIbuNaganingrumPasanganKancanawangi Sumber Cerita ini berasal dari tradisi cerita lisan Sunda yang disebut Pantun Sunda,[3] yang kemudian dituliskan ke dalam buku yang ditulis oleh beberapa penulis Sunda, baik dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.[4] Ringkasan Turunnya sang raja Dahulu berdirilah sebuah kerajaan besar di pulau Jawa yang disebut Kerajaan Galuh, ibu kotanya terletak di Galuh dekat Ciamis sekarang. Dipercaya bahwa pada saat itu kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung Barat Jawa, sampai ke Hujung Galuh "Ujung Galuh", yang saat ini adalah muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya sekarang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah. Setelah memerintah dalam waktu yang lama Raja memutuskan untuk menjadi seorang pertapa dan karena itu ia memanggil menteri Aria Kebonan ke istana. Selain itu, Aria Kebonan juga telah datang kepada raja untuk membawa laporan tentang kerajaan. Sementara ia menunggu di depan pendapa, ia melihat pelayan sibuk mondar-mandir, mengatur segalanya untuk raja. Menteri itu berpikir betapa senangnya akan menjadi raja. Setiap perintah dipatuhi, setiap keinginan terpenuhi. Karena itu ia pun ingin menjadi raja. Saat ia sedang melamun di sana, raja memanggilnya. "Aria Kebonan, apakah benar bahwa Engkau ingin menjadi raja?" Raja tahu itu karena ia diberkahi dengan kekuatan supranatural. "Tidak, Yang Mulia, aku tidak akan bisa." "Jangan berbohong, Aria Kebonan, aku tahu itu." "Maaf, Yang Mulia, Saya baru saja memikirkannya." "Yah, Aku akan membuat engkau menjadi raja Selama Aku pergi untuk bermeditasi, Engkau akan menjadi raja dan memerintah dengan benar. Engkau tidak akan memperlakukan tidur dengan kedua istriku, Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sebagai istrimu." "Baiklah, Yang Mulia." "Aku akan mengubah penampilanmu menjadi seorang pria tampan. Nama Anda akan Prabu Barma Wijaya. Beritahulah pada orang-orang bahwa raja telah menjadi muda dan Aku sendiri akan pergi ke suatu tempat rahasia. Dengan demikian engkau akan menjadi raja!" Pada saat penampilan Aria Kebonan menyerupai Prabu Permana di Kusumah itu, tetapi tampak sepuluh tahun lebih muda. Orang percaya pengumuman bahwa ia adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah yang telah menjadi sepuluh tahun lebih muda dan mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Hanya satu orang tidak percaya ceritanya. Ia adalah Uwa Batara lengser yang mengetahui perjanjian antara raja dan menteri tersebut. Prabu Barma Wijaya menjadi bangga dan mempermalukan Uwa Batara lengser yang tidak dapat melakukan apa-apa. Dia juga memperlakukan kedua ratu dengan kasar. Keduanya menghindarinya, kecuali di depan umum ketika mereka berperilaku seolah-olah mereka istri Prabu Barma Wijaya. Kelahiran dua pangeran Suatu malam kedua ratu bermimpi bahwa bulan jatuh di atas mereka. Mereka melaporkan hal itu kepada raja yang membuatnya ketakutan, karena mimpi tersebut biasanya peringatan bagi wanita yang akan hamil. Hal ini tidak mungkin karena ia tidak bersalah memperlakukan kedua ratu sebagai istri-istrinya. Uwa Batara lengser muncul dan mengusulkan untuk mengundang seorang pertapa baru, yang disebut Ajar Sukaresi - yang tidak lain adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah - untuk menjelaskan mimpi yang aneh tersebut. Prabu Barma Wijaya setuju, dan begitu pertapa tiba di istana ia ditanya oleh raja tentang arti mimpi itu. "Kedua ratu mengharapkan seorang anak, Yang Mulia." Meskipun terkejut dengan jawabannya, Prabu Barma Wijaya masih bisa mengendalikan diri. Ingin tahu seberapa jauh pertapa berani berbohong kepada dia, dia mengajukan pertanyaan lain. "Apakah mereka akan anak perempuan atau anak laki-laki?" "Keduanya anak laki-laki, Yang Mulia." Pada hal ini raja tidak bisa lagi menahan diri, mengambil kerisnya dan menusuk Ajar Sukaresi agar dia mati namun Dia gagal. Keris itu bengkok. "Apakah Raja berkehendak aku mati? Bila begitu, saya akan mati." Kemudian pertapa itu jatuh. Raja menendang mayatnya begitu hebat sehingga terlempar ke dalam hutan di mana ia berubah menjadi seekor naga besar, yang disebut Nagawiru. Di keraton, sesuatu yang aneh terjadi. Kedua ratu memang hamil. Setelah beberapa waktu Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra yang bernama Hariang Banga. Suatu hari ketika Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum, secara ajaib janin dalam kandungan Naganingrum yang belum lahir tersebut berbicara "Barma Wijaya, Engkau telah melupakan banyak janjimu. Semakin banyak Anda melakukan hal-hal kejam, kekuasaan Anda akan semakin pendek.." Rencana jahat Peristiwa aneh janin yang dapat berbicara tersebut membuat Raja sangat marah dan takut terhadap ancaman janin tersebut. Dia ingin menyingkirkan janin itu dan segera menemukan cara untuk melakukannya. Dia meminta bantuan Dewi Pangrenyep untuk dapat terlepas dari bayi Dewi Naganingrum yang akan lahir sebagai bajingan menurut impiannya. Dia tidak akan cocok untuk menjadi penguasa negeri ini bersama-sama dengan Hariang Banga, putra Dewi Pangrenyep. Ratu percaya hal tersebut dan setuju, tetapi apa yang harus dilakukan? "Kita akan menukar bayi tersebut dengan anjing dan melemparkannya ke sungai Citanduy." Sebelum melahirkan, Dewi Pangrenyep menghimbau Dewi Naganingrum untuk menutupi matanya dengan malam lilin yang biasanya digunakan untuk membatik. Dia berpendapat bahwa perlakuan ini adalah untuk menghindarkan ibu yang sedang melahirkan agar tidak melihat terlalu banyak darah yang mungkin dapat membuat dia pingsan. Naganingrum setuju dan Pangrenyep pun menutup mata Dewi Naganingrum dengan lilin, berpura-pura membantu ratu malang tersebut. Naganingrum tidak menyadari apa yang terjadi, bayi yang baru lahir itu dimasukkan ke dalam keranjang dan dilemparkan ke dalam Sungai Citanduy, setelah ditukar dengan bayi anjing yang dibaringkan di pangkuan sang ibu yang tidak curiga akan perbuatan jahat tersebut. Ratu Naganingrum segera menyadari bahwa ia tengah menggendong seekor bayi anjing, ia sangat terkejut dan jatuh sedih. Kedua pelaku kejahatan berusaha menyingkirkan Dewi Naganingrum dari istana dengan mengatakan kebohongan kepada rakyat, tetapi tidak ada yang percaya kepada mereka. Bahkan Uwa Batara lengser tak dapat melakukan apa-apa karena Raja serta Ratu Dewi Pangrenyep sangat berkuasa. Barma Wijaya bahkan memerintahkan hukuman mati atas Dewi Naganingrum karena dia telah melahirkan seekor anjing, yang dianggap sebagai kutukan dari para dewa dan aib bagi kerajaan. Uwa Batara lengser mendapat perintah untuk melaksanakan eksekusi tersebut. Dia membawa ratu yang malang ke hutan, namun dia tak sampai hati membunuhnya, ia bahkan membangunkan sebuah gubuk yang baik untuknya. Untuk meyakinkan Raja dan Ratu Pangrenyep bahwa ia telah melakukan perintah mereka, ia menunjukkan kepada mereka pakaian Dewi Naganingrum yang berlumuran darah. Sabung ayam Di desa Geger Sunten, tepian sungai Citanduy, hiduplah sepasang suami istri tua yang biasa memasang bubu keramba perangkap ikan yang terbuat dari bambu di sungai untuk menangkap ikan. Suatu pagi mereka pergi ke sungai untuk mengambil ikan yang terperangkap di dalam bubu, dan sangat terkejut bukannya menemukan ikan melainkan keranjang yang tersangkut pada bubu tersebut. Setelah membukanya, mereka menemukan bayi yang menggemaskan. Mereka membawa pulang bayi tersebut, merawatnya dan menyayanginya seperti anak mereka sendiri. Dengan berlalunya waktu bayi tumbuh menjadi seorang pemuda rupawan yang menemani berburu orang tua dalam hutan. Suatu hari mereka melihat seekor burung dan monyet. "Burung dan monyet apakah itu, Ayah?" "Burung itu disebut Ciung dan monyet itu adalah Wanara, anakku." "Kalau begitu, panggillah aku Ciung Wanara." Orang tua itu menyetujui karena arti kedua kata tersebut cocok dengan karakter anak itu. Suatu hari ia bertanya pada orang tuanya mengapa dia berbeda dengan anak laki-laki lain dari desa tersebut dan mengapa mereka sangat menghormatinya. Kemudian orang tua itu mengatakan kepadanya bahwa ia telah terbawa arus sungai ke desat tersebut dalam sebuah keranjang dan bukan anak dari desa tersebut. "Orangtuamu pasti bangsawan dari Galuh." "Kalau begitu, aku harus pergi ke sana untuk mencari orang tua kandungku, Ayah." "Itu benar, tetapi kamu harus pergi dengan seorang teman. Di keranjang itu ada telur. Ambillah, pergilah ke hutan dan carilah unggas untuk menetaskan telur itu." Ciung Wanara mengambil telur itu, pergi ke hutan seperti yang diperintahkan oleh sang orang tua, tetapi ia tidak dapat menemukan unggas. Ia menemukan Nagawiru yang baik, kepadanya ia meminta untuk menetaskan telur. Dia meletakkan telur di bawah naga itu dan tak lama setelah menetas, anak ayam tumbuh dengan cepat. Ciung Wanara memasukkannya ke dalam keranjang, meninggalkan orang tua dan istrinya dan memulai perjalanannya ke Galuh. Di ibu kota Galuh, sabung ayam adalah sebuah acara olahraga besar, baik raja dan rakyatnya menyukainya. Raja Barma Wijaya memiliki ayam jago yang besar dan tak terkalahkan bernama Si Jeling. Dalam kesombongannya, ia menyatakan bahwa ia akan mengabulkan keinginan apapun kepada pemilik ayam yang bisa mengalahkan ayam juaranya. Saat tiba, anak ayam Ciung Wanara sudah tumbuh menjadi ayam petarung yang kuat. Sementara Ciung Wanara sedang mencari pemilik keranjang, ia ikut ambil bagian dalam turnamen adu ayam kerajaan. Ayamnya tidak pernah kalah. Kabar tentang anak muda yang ayam jantannya selalu menang di sabung ayam akhirnya mencapai telinga Prabu Barma Wijaya yang kemudian memerintahkan Uwa Batara lengser untuk menemukan pemuda itu. Orang tua itu segera menyadari bahwa pemuda pemilik ayam itu adalah putra Dewi Naganingrum yang telah lama hilang, terutama ketika Ciung Wanara menunjukkan padanya keranjang di mana ia telah dihanyutkan ke sungai. Uwa Batara Lengser mengatakan pada Ciung Wanara bahwa raja telah memerintahkan hal tersebut selain menuduh ibunya telah melahirkan seekor anjing. "Jika ayam kamu menang melawan ayam raja, mintalah saja kepadanya setengah dari kerajaan sebagai hadiah kemenangan kamu." Keesokan paginya Ciung Wanara muncul di depan Prabu Barma Wijaya dan menceritakan apa yang telah diusulkan Lengser. Raja setuju karena dia yakin akan kemenangan ayam jantannya yang disebut Si Jeling. Si Jeling sedikit lebih besar dari ayam jago Ciung Wanara, namun ayam Ciung Wanara lebih kuat karena dierami oleh Naga Nagawiru. Dalam pertarungan berdarah ini, ayam sang Raja kehilangan nyawanya dan raja terpaksa memenuhi janjinya untuk memberikan Ciung Wanara setengah dari kerajaannya. Perang saudara Ciung Wanara menjadi raja dari setengah kerajaan dan membangun penjara besi yang dibangun untuk mengurung orang-orang jahat. Ciung Wanara merencanakan siasat untuk menghukum Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep. Suatu hari Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep diundang oleh Ciung Wanara untuk datang dan memeriksa penjara yang baru dibangun. Ketika mereka berada di dalam, Ciung Wanara menutup pintu dan mengunci mereka di dalam. Dia kemudian memberitahu orang-orang di kerajaan tentang perbuatan jahat Barma dan Pangrenyep, orang-orang pun bersorak. Namun, Hariang Banga, putera Dewi Pangrenyep, menjadi sedih mengetahui tentang penangkapan ibunya. Ia menyusun rencana pemberontakan, mengumpulkan banyak tentara dan memimpin perang melawan adiknya. Dalam pertempuran, ia menyerang Ciung Wanara dan para pengikutnya. Ciung Wanara dan Hariang Banga adalah pangeran yang kuat dan berkeahlian tinggi dalam seni bela diri pencak silat. Namun Ciung Wanara berhasil mendorong Hariang Banga ke tepian Sungai Brebes. Pertempuran terus berlangsung tanpa ada yang menang. Tiba-tiba munculah Raja Prabu Permana Di Kusumah didampingi oleh Ratu Dewi Naganingrum dan Uwa Batara lengser. "Hariang Banga dan Ciung Wanara!" kata Raja, "Hentikan pertempuran, ini adalah pamali "tabu" atau "dilarang" dalam bahasa Sunda dan Jawa - berperang melawan saudara sendiri. Kalian adalah saudara, kalian berdua adalah anak-anakku yang akan memerintah di negeri ini, Ciung Wanara di Galuh dan Hariang Banga di timur sungai Brebes, negara baru. Semoga sungai ini menjadi batas dan mengubah namanya dari Sungai Brebes menjadi Sungai pamali untuk mengingatkan kalian berdua bahwa adalah pamali untuk memerangi saudara sendiri. Biarlah Dewi Pangrenyep dan Barma Wijaya yang dahulu adalah Aria Kebonan dipenjara karena dosa mereka." Sejak itu nama sungai ini dikenal sebagai Cipamali Bahasa Sunda atau Kali Pemali Bahasa Jawa yang berarti "Sungai Pamali". Hariang Banga pindah ke timur dan dikenal sebagai Jaka Susuruh. Dia mendirikan kerajaan Jawa dan menjadi raja Jawa, dan pengikutnya yang setia menjadi nenek moyang orang Jawa. Ciung Wanara memerintah kerajaan Galuh dengan adil, rakyatnya adalah orang Sunda, sejak itu Galuh dan Jawa makmur lagi seperti pada zaman Prabu Permana Di Kusumah. Saat kembali menuju ke barat, Ciung Wanara menyanyikan legenda ini dalam bentuk Pantun Sunda, sementara kakaknya menuju ke timur dengan melakukan hal yang sama, menyanyikan cerita bersejarah ini dalam bentuk tembang. Interpretasi Legenda ini adalah cerita rakyat Sunda untuk menjelaskan asal nama Sungai Pamali, serta untuk menjelaskan asal usul hubungan orang Sunda dengan orang Jawa; tentang dua bersaudara yang bersaing dan memerintah di pulau yang sama. Dari cerita ini jelas terlihat bahwa kerajaan Sunda Kerajaan Galuh lebih tua atau lebih awal berdiri dari kerajaan yang didirikan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal tersebut diperkuat dengan fakta sejarah bahwa kerajaan tertua di Jawa memang terletak di tatar Sunda, yaitu kerajaan Salakanagara. Namun jika menilik dari silsilah persaudaraan keduanya Hariang Banga dengan Ciung Wanara maka dapat disimpulkan bahwa orang Jawa Yang berasal dari Hariang Banga bersama pengikutnya merupakan saudara yang lebih tua dari orang Sunda Yang berasal dari Ciung Wanara bersama pengikutnya, dan orang Sunda menerima hal tersebut. Warisan sejarah Pahlawan nasional Indonesia dari Bali, I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan kecil yang dinamainya Pasukan Ciung Wanara di mana pasukan ini bertujuan untuk menghalau pengaruh Belanda di Bali untuk membentuk Negara Indonesia Timur setelah disetujuinya Perjanjian Linggarjati dan mengembalikan Bali dibawah kendali pemerintahan Indonesia. Pasukan Ciung Wanara yang jumlahnya tidak lebih dari 100 personil ini seluruhnya gugur dalam pertempuran Puputan Margarana melawan pasukan NICA Belanda di Tabanan pada November 1946. Lihat pula Sastra Sunda Pranala luar Referensi ^ Indonesia Ensiklopedi Sunda Alam, Manusia dan Budaya termasuk Budaya Cirebonan dan Betawi. PT Dunia Pustaka Jaya. Jakarta 2000. ^ Indonesiaciung wanara diaksés tanggal 27 Oktober 2011 ^ Tamsyah, Budi Rahayu 1999. Kamus Istilah Tata Basa jeung Sastra Sunda. Pustaka Setia. hlm. 175–176. ^ Noorduyn, J. 2006. Three Old Sundanese poems. KITLV Press.
CeritaRakyat Lutung Kasarung. Alkisah, hiduplah dua putri raja bernama Purbasari dan kakaknya Purbararang. Suatu hari, ayahnya menunjuk Purbasari untuk menggantikan ayahnya sebagai raja. Namun, kakanya tidak setuju lalu menemui penyihir
CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDAAssalamualaikum wr wbTerimakasih sudah berkunjung ke halaman blog datang di Perkenalkan blog ini berisi materi-materi pelajaran bahasa Sunda yang dikemas dalam media audio-visual untuk memberikan kesan belajar yang menyenangkan, mudah dipahami, dan memberikan banyak informasi baru kepada hanya blog saja, pun memiliki youtube channel, yang berisi video-video edukasi mengenai pembelajaran bahasa Sunda. Kalian bisa kunjungi youtube channel dengan klik link di bawah ada pertanyaan seputar CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDA yang kurang dipahami, kalian bisa memberikan komentar, silahkan jangan ragu untuk mengisi kolom komentar di dengan adanya blog ini bisa memberikan manfaat bagi kalian belajar CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDA. Ciung Wanara téh saenyana putra raja Galuh Pakuan. Ngan ti leuleutik dirorok ku Aki Balangantrang jeung Nini Balangantrang. Ciung Wanara téh teu apaleun yén anjeunna putra raja. Disangkana indung-bapana téh Nini jeung Aki Balangantrang wé. Ngan dasar aya terah sanajan dididik ku nini-nini jeung aki-aki bari di kampung, béda pasipatanana jeung barudak-barudak kampung séjénna. Leutik kénéh gé geus ngawasa rupa-rupa élmu nu biasana mah nu karitu téh dicekel ku jalma déwasa. Ari karesep Ciung Wanara harita ngukut jeung ngadu hayam. Nu matak barang ngadéngé béja cenah raja Galih Pakuan gé kasenengna kana ngadu hayam. Cita-cita Ciung Wanara hayang ngéléhkeun hayam kagungan raja. Ceuk pikiranana hadé goréngna hayam mah gumantung kana turunan jeung pamiaraan. Sanajan hayam raja, ari goréng turunan atawa pamiaraan mah moal bisa ngéléhkeun ka hayam hiji waktu Ciung Wanara nyarita ka Nini jeung Aki Balangantrang yén manéhna rék indit ka nagara Galih Pa¬kuan. Komo wé nini-nini jeung aki-aki téh barang mimiti ngadéngé caritaan Ciung Wanara kitu, rareuwaseun pisan. Tapi teu aya alesan keur nyarék. Komo mun seug nilik jalugjugna awak Ciung Wanara nu geus rék nincak déwasa, pantes mun hayang indit pikeun nyiar luang pangalaman ka dayeuh téh. Leuwih ti kitu, Aki jeung Nini Balangantrang nu apaleun pisan, saha ari Ciung Wanara téh, dina pikirna ieu lalaki lalanang jagat téh tangtu baris ngukir sajarah. Kacaritakeun dina waktu nu geus ditangtukeun jung baé Ciung Wanara téh indit kadua hayam jago. Waktu nyorang lembur-lembur matak guyur, sabab ceuk mojang-mojang kakaraeun teuing nempo satria kasép ngalémpéréng konéng ngaliwat, hanjakal ngan saliwat. Para pamuda gé garogedeg ceuk ieu saha ceuk itu saha. Waktu aya nu ngabéjaan yén éta téh anak Nini jeung Aki Bala¬ngantrang kalah beuki kacida garogedegna. Keur meujeuhna panas poé mentrang-mentring Ciung Wanara nepi ka luareun lawang sakéténg nyaéta lawang paranti asup ka jero dayeuh. Di dinya anjeunna ngareureuhkeun capé heula di handapeun tangkal kai. Karinget ngucur ti sakuliah badanna, ni’mateun pisan katebak ku anginngahiliwir. Bari diuk manéhna nempo lawang sakéténg dijaga ku jelema duaan jarangkung gedé bari marawa tumbak jeung nyorén gobang. Ceuk pikiranana kumaha bisana asup ari dijaga kitu mah, mangkaning teu boga duit. Sabab sakur nu asup ka dinya kudu mayar. Ngan kabeneran nu jaraga téh sok luas-léos. Sabot bongoh kitu sup Ciung Wanara asup. Barang geus di jero dayeuh, jelema-jelema karagéteun, nempo pamuda nu sakitu kasépna. Harita Ciung Wanara aya nu ngaku ku hiji randa beunghar. Waktu ditanya ngaran jeung lembur, Ciung Wanara ngajawab terus terang.“Ari Ujang ka dieu téh rék naon?” Nyi Randa nanya deui.“Hoyong ngadu hayam sareng kagungan Kangjeng Raja!” jawabna tenang.”Is na ari Ujang, asa lalawora teuing! Boga naon kitu keur tumpangna?”“Aya wé.”“Ayeuna mah tong waka jeung nu raja, jeung nu bibi wé heulaanan!Da bibi gé boga hayam adu mah!”“Mangga, ngan upami sareng nu bibi mah moal tumpangan.” Kacaritakeun geprak wé hayam Ciung Wanara diadukeun jeung hayam Nyi Randa beunghar. Da ngan sakali ngabintih hayam Nyi Randa ngagolér. Jelema-jelema nu nyaraksian ramé surak. Aya ogé nu ngomong, “Héran déwék mah euy! Hayam turundul kitu maké meunang!” Isukna Ciung Wanara kaluar ti tempat panyiru-rukanana nyaéta imah Nyi Randa téa. Waktu ulin ka alun-alun lar patih Purawesi jeung Puragading bébénténg nagara Galih Pakuan angkat sareng. Jaman harita téa upama aya pangagung angkat, jelema-jelema nu nempo téh kudu brek caringogo bari tungkul. Upama teu kitu dianggap teu sopan, pasti bakal meunang hukuman. Sanajan teu nyaho gé nu duaan éta patih, nilik dedeg-pangadegna, saha nu teu sieun. Geus puguh awakna jarangkung gedé, kumis baplang jeung godégan, maké iket barangbang semplak nepi ka buukna sakitu panjangna papuket kabeungkeut iket. Awakna teu maké baju nepi ka atra bulu kélékna jabrig, dadana buluan. Ka handap maké calana sontog maké beubeur sagedé tampah, Duanana pada nyorén gobang ngangsar ampir antel kana taneuh. Upama ngarérét ka nu ngahormat, burileng panonna nu sagedé jéngkol téh hirup kawas rék kék waé Ciung Wanara aya nu ngabéjaan yén éta téh patih, ngadon solongkrong nyampeurkeun. Duka kituna téh pédah didikan Aki jeung Nini Balangantrang nu ngajarkeun hakékat jelema mah taya bédana da sarua damelan Nu Maha Kawasa. Malah dina basa gé ka ieu-ieu sarua taya adab taya kasar. Atawa pangna wani nyampeurkeun patih téh perbawa sipatna nu teuneung. Tapi nu pasti mah berekah didikan jeung sipat! Waktu Ciung Wanara nyampeurkeun ka patih mah papakéanana lain nu biasa, tapi diganti ku nu goréng. Malah teu maké baju-baju acan, beuteungna ngahaja dibucitreuk-bucitreukkeun, beungeutna camérong diko-toran leutak. Barang solongkrong ka patih, nu disampeurkeun nanya sorana mani tarik semu peura, “Rék naon sia budak buncir nyampeurkeun ka kami?”Ceuk Ciung Wanara bolostrong bari teu kireum-kireum, “Hayang ngadu hayam jeung nu Kangjeng Patih!”“Hah siah wawanianan! Boga hayam turundul kitu wani ngadu jeung nu aing! Sakali ngabintih gé hayam sia paéh!” Patih Purawesi sasauranana kitu bari bendu sabab asa dihina ku budak buncir.“Nyobaan wé!” ceuk budak buncir téh.“Heug! Tapi naon tumpangna?” saur Patih Pura-gading.“Teu boga da kami mah tara tumpangan!” cék budak buncir.“Aéh-aéh siah!” saur Patih Purawesi, “Kieu wé atuh! Lamun hayam sia éléh, sia ku kami digebug sapuluh kali Ku gegendir ieu! Wani henteu?”“Wani! Ngan upama hayam patih nu éléh naon tumpangna?”“Moal éléh hayam kami mah!”“Enya upama ieu mah,” ceuk budak buncir deui.“Manéh ku kami dibéré duit sarajut!” saur Patih Purawesi. Geus nyieun perjangjian kitu mah Patih Purawesi jeung Patih Puragading nimbalan ponggawa nyandak hayam kagunganana nu pangsaéna. Budak buncir diajak ka pakalangan paranti ngadu hayam. Di dinya nu lalajo geus pinuh. Jelema sakitu lobana teu aya saurang gé nu mangmeunangkeun ka hayam budak buncir. Hayam Patih Purawesi tuluy diasupkeun ka pakalangan. Barang sup ger nu lalajo surak. Hayam téh jangkung gedé buluna hérang pertanda asak piara, jawérna sumpel, buntutna lempay, siihna seukeut panjangna kira-kira satunjuk. Barang jrut ka pakalangan, belegender kokoréh tuluy kongkorongok. Ningali hayam lagana kitu, Patih Purawesi imut. “Sok, Buncir asupkeun hayam manéh!” Hayam turundul téh ku budak buncir ditiup sirahna geus kitu dialungkeun ka pakalangan. Barang sup, séak diudag ku hayam Patih Purawesi. Si Turundul nyingcet, jol di tukangeun Si Jelug, kecok sirah hayam Patih Purawesi téh dipacok, jebét dibintih. Teu ngadua-kalian, hayam patih Purawesi ngagolér teu hudang deui. Ger nu lalajo surak éak-éakan. Patih Purawesi barengep lain pédah aya nu neunggeul tapi bakat ku éra ku nu lalajo. Sabab hayam kagunganana tacan aya nu ngéléhkeun, sumawonna nepi ka ngagolér kawas harita mah. Ongkoh jaman harita mah ajén jelema téh ditangtukeun ku hayam aduna. Upama hayam aduna kuat teu aya nu ngéléhkeun, ajén nu bogana ningkat upama hayamna éléh, ajén nu bogana turun. Budak buncir téh nyokot hayamna ti pakalangan, tuluy diusapan. Nu lalajo ngarogrog nempo hayam budak buncir. Ku saréréa pada nyidikkeun teu aya tanda-tanda hayam alus. Nu matak sakur nu lalajo pada hookeun.“Sok ayeuna mah jeung nu aing!” saur Patih Puragading. “Sok asupkeun heula hayam maneh, Buncir!” Saperti tadi budak buncir téh méméh ngasupkeun hayamna ditiup heula huluna, Sanggeus hayam turundul aya di pakalangan, hayam Patih Puragading diasupkeun. Barang sup sebrut hayam jelug nu Patih Puragading ngudag Si Turundul. Tapi nu diudag rikat luncat ka luhur nepi ka nu ngudag téh kaselebrungan. Si Turundul geus taki-taki di tukangeun Si Jelug. Barang Si Jelug malik, sebrut deui ngudag. Si Turundul nu geus taki-taki mapang hulu Si Jelug ku pangbintih satakerna. Jepet golépak hayam Patih Pura gading ngagolér. Ger deui nu lalajo surak. Patih Puragading baketut ambek nyedek tanaga midek. Sanggeus dua hayam patih ngagolér, budak buncir ngadeukeutan patih rék nagih jangji, Patih Purawesi jeung Puragading kalah ambek, geus puguh hayam nu dipikameumeutna éléh, ayeuna aya nu nagih. Ku sabab kitu budak buncir téh dirawél tadina rék digebug. Ngan budak buncir nu taya lian Ciung Wanara bisa cungcat-cingcet nepi ka teu dikepung ku dua patih dibantuan ku para ponggawa karaton teu beunang. Ber pada ngudag, Ciung Wanara geus teu aya, nyumput ngadedempés. Puguh wé dua patih téh ambek murang-maring. Majar jelema sakitu lobana éléh ku budak buncir saurang. Kacaritakeun béja yén aya budak buncir boga hayam adu sakitu meunanganana geus dugi ka Kangjeng Raja Galih Pakuan. Anjeunna enggal nimbalan para ponggawa milarian budak buncir téa. Nu milarian geus ber ka ditu ber ka dieu tapi nu dipilarian teu kapendak, teu aya raratan-raratanana acan. Kabeneran ku kapinteran Léngsér budak buncir téh kapanggih. Ngan waktu diajak ka karaton ngadeuheus ka Kangjeng Raja, budak buncir téh mugen, embungeun. Ari alesanana sieun ku patih. Budak buncir téh nya nyarita terus terang katugenahna ku patih. Nu jangji rék méré duit sarajut kalah rék nyiksa. Patih nu modél kitu cenah kudu meunang hukuman. Léngsér nyanggupan rék méréskeun masalah éta asal budak buncir daék milu ka karaton. Kacaritakeun sanggeus Léngsér jangji mah, budak buncir téh daékeun milu. Barang nepi ka karaton patih keur araya di dinya. Nempo budak buncir panonna burulang-burileng tapi teu bisa kukumaha da sieuneun ku raja. Budak buncir mah nempo patih kitu téh tenang wé siga teu aya kakeueung. Saparantos diparios ku raja, énggalna budak buncir terus terang hayang ngadukeun hayamna jeung kagungan raja, nu geus sohor ka manamana teu acan aya nu ngéléhkeun. Waktu diparios naon tumpangna, waler bu¬dak buncir, pati-hurip raga sareng badan. Dawuhan raja ti kami mah cenah tumpanganana nagara sabeulah. Isukna jelema-jelema geus pinuh di tempat pangaduan hayam rék lalajo. Hayam raja mah datangna ka dinya gé pada ngagotong jeung kurungna. Ti barang datang disada kakak-kokok jeung pucak-pacok. Atuh si Budak Buncir geus datang cingogo bari ngusapan hayamna Si Turundul. Barang geus ninggang kana waktuna dua hayam geus pasang sanghareup-sanghareup. Hayam raja nu jangkung leuwih ti hayam patih, dongko bari muridingkeun bulu beuheungna, panonna gular-giler sieun kapiheulaan kabintih. Kecok Si Turundul sirahna dipacok, jebét dibintih. Ger nu lalajo ramé surak kabéh ngabobotohan hayam raja. Ngan dibintih sakitu tarikna Si Turundul teu régrog-régrog. Manéhna gulak-gilek ngamaénkeun huluna bisi kabeunangan deui. Kangjeng Raja Galih Pakuan imut ngagelenyu ningali hayam aduanana nu sakitu ageungna, ngalawan hayam turundul, eukeur mah leutik kawas kurang parab deuih, Tapi waktu Kangjeng Raja imut kitu, teu kanyahoan kecok hayam kagungan raja dipacok jawérna, jebét dibintih. Kawas lawan-lawan Si Turundul nu ti heula, teu kudu ngadua kalian dibintih, sakali gé cukup. Barang jebét golépak ngagolér. Kangjeng Raja ngarénjag reuwas teu aya papadana, Patih Purawesi jeung Puragading tadina rék ngarontok budak buncir, ngan énggal dihuit ku raja. “Héy Patih! Teu meunang kitu! Geus puguh hayam urang nu éléh, rék naon deui! Kaula moal jalir jangji rék masrahkeun karajaan satengahna. Geus adat nu sok ngadu ngan meunang jeung éléh. Malah loba nu béak kakayaanana ku ngadu!” Barang ngadangu kasauran raja kitu, patih cicing teu ngomong sakemék Harita kénéh karajaan Galih Pa¬kuan beulah kulon dipasrahkeun ka budak buncir. Beulah wétan mah geus dicepeng ku putrana Hariang Banga. Dina hiji kasempetan kauninga ku raja yén budak buncir téh taya lian ti Ciung Wanara putrana ku anjeun, nu dirorok ti oorok ku Aki jeung Nini Balangantrang. Ku sabab kitu saur raja ka Ciung Wanara, “Sukur hidep geus jadi budak prihatin. Jeung hidep boga karajaan lain warisan, tapi hasil usaha sorangan. Muga-muga waé bisa ngajalankeun pamaréntahan, ari Ama mah ti wangkid ieu rék ngabagawan.” Diropéa tina buku ”Jaka Gurumaya Ngaburak-barik Siluman”karya Tasdik 1996 LATIHAN Naon téma atawa jejer carita pantun diluhur téh?Saha waé palakuna? Kumaha deuiih watekna?Dimana kajadianana carita diluhur téh?Naon hal-hal anu bisa ditaulad diconto tina carita pantun diluhur?Pék caritakeun deui sempalan carita pantun diluhur téh?Paluruh 10 kecap anu dianggap hésé, tina carita pantun diluhur! Téangan hartina dina kamus basa Sunda, geus kitu tuluy larapkeun kalana kalimah! BUKU SUMBERBUKU RANCAGÉ DIAJAR BASA SUNDABUKU PANGGELAR BASA SUNDABUKU PAMEKAR DIAJAR BASA SUNDABUKU SIMPAY BASA SUNDAMODUL PANGAJARAN BASA SUNDAMODUL PPG BASA SUNDA Bagaimana??? Penjelasan mengenai materi di atas dapat dipahami dengan baik??? jika masih belum paham, kalian bisa memberikan pertanyaan dengan mengisi komentar di bawah atau bisa juga mengunjungi postingan mengenai MATERI CARITA PANTUN lainnya atau langsung cari saja keyword materi yang kalian cari di bawah ini Jika blog ini bisa memberikan banyak manfaat, jangan lupa untuk dukung blog ini dengan cara like, comment, dan share ke teman-teman kalian. Jangan lupa untuk bergabung dalam group belajar bahasa Sunda husus siswa se-Jabar, dengan klik link di bawah iniWHATSAPPTELEGRAMFACEBOOKINSTAGRAMYOUTUBETIKTOK Mari kita sama-sama bangun blog ini supaya bisa lebih berkembang lagi dan memberikan banyak ilmu yang bermanfaat bagi kalian GOOGLE TRANSLATE Perhatian!, materi ini diterjemahkan oleh mesin penterjemah google translate tanpa adanya post editting, sehingga ketepatan dalam terjemahan masih buruk dan perlu dikembangkan dari fitur terjemahan ini untuk pengunjunga yang kesulitan memahami materi dan tidak sama sekali mengerti bahasa Sunda atau teman-teman pelajar dari luar Jawa Barat yang sedang belajar bahasa Sunda, fitur terjemahan ini bisa digunakan namun tidak 100% akurat, akan tetapi garis besarnya bisa diambil, daripada tidak mengerti mudah-mudahan admin punya waktu sehingga bisa mengoptimalkan fitur terjemahannya sendiri, dengan begitu pengunjung bisa mempelajari materi dalam bahasa Indonesia. CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDA Cerita Puisi “Ciung Wanara”Ciung Wanara adalah putra raja Galuh Pakuan. Baru sejak kecil diadopsi oleh Aki Balangantrang dan Nini Balangantrang. Ciung Wanara tidak ingat bahwa dia adalah putra seorang raja. Diduga kedua orang tuanya adalah Nini dan Aki dasar-dasarnya saja yang ada meski dididik oleh kakek-nenek dan aki-aki selama di desa, beda sifat dan anak desa lainnya. Kecil masih kita akan menguasai berbagai ilmu yang biasanya tidak hanya dimiliki oleh orang favorit Ciung Wanara adalah memungut dan menggali ayam. Para pemeran barang mendengar kabar bahwa raja Galih Pakuan akan senang menggali ayam. Ambisi Ciung Wanara adalah mengalahkan ayam raja. Dia pikir semakin baik ayam saya bergantung pada keturunan dan pembiakan. Bahkan ayam raja, keturunan yang buruk atau pembiakan saya tidak bisa mengalahkan ayam Wanara pernah berbicara dengan Nini dan Aki Balangantrang bahwa ia ingin pergi ke negeri Galih Pa¬kuan. Bahkan kakek-nenek dan bibinya yang CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDApertama kali mendengar cerita Ciung Wanara sangat terkejut. Tapi tidak ada alasan untuk mengeluh. Meski melihat jenazah Ciung Wanara yang hendak menginjak usia dewasa, ada baiknya jika ingin pergi mencari pengalaman liburan ke kota ini. Apalagi Aki dan Nini Balangantrang sangat berhati-hati, siapa Ciung Wanara, dalam pemikiran orang yang mengabaikan dunia ini pasti akan mengukir pada waktu yang ditentukan orang jung Ciung Wanara telah menjadi ayam jantan kedua. Lembur agak merepotkan, karena para gadis mengatakan sudah terlambat untuk melihat kesatria terlambat untuk membiarkan kuning lewat, sayangnya baru selesai. Pemuda akan garogedeg mengatakan ini siapa yang mengatakan itu siapa. Ketika ada yang memberitahumu bahwa itu adalah anak Nini dan Aki Bala¬ngantrang semakin kenyamanan panasnya hari Ciung Wanara hingga di luar pintu depan merupakan pintu masuk kota. Di sana ia beristirahat lelah dulu di bawah pohon kayu. Keringat menetes dari sekujur tubuhnya, kematiannya sangat bisa ditebak oleh duduk dia melihat sebuah pintu kecil yang dijaga oleh dua jala besar sambil membawa tombak dan menarik seekor gobang. Dia berpikir bagaimana dia bisa tetap waspada jadi saya, bagaimanapun, tidak punya uang. Karena siapapun yang masuk harus membayar. CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDASatu-satunya kebenaran adalah bahwa net selalu terbelalak. Saat dia pergi, sop Ciung Wanara masuk. Banyak hal telah terjadi di dalam kota, orang-orang khawatir, melihat pemuda itu larut malam. Harita Ciung Wanara diklaim oleh seorang janda kaya. Saat ditanya nama dan lemburnya, Ciung Wanara menjawab terus terang.“Ari Ujang ini yang kamu inginkan?” Nyi Randa bertanya lagi.“Saya ingin makan ayam dan memiliki Kangjeng Raja!” Jawabannya tenang.“Apakah na ari Ujang, sebagai kelalaian juga! Apa yang Anda miliki untuk berkuda? ““Itu dia.”“Sekarang aku laras waka dengan raja, dan bibi kita duluan!Bibiku akan makan ayamku! ““Tolong, hanya jika dengan bibi saya tidak akan naik.”Kabarnya, ayam Ciung Wanara diaduk dan ayam Nyi Randa kaya. Da hanya sekali menyembelih ayam Nyi Randa yang dibaringkan. Orang-orang bersorak dengan keras. Ada juga yang mengatakan, “Saya terkejut! Ayam-ayam itu turun jadi saya bisa mendapatkannya! “Keesokan harinya, Ciung Wanara keluar dari tempat pemerkosanya berada di rumah Nyi Randa. Saatnya bermain ke alun-alun patih purawesi dan puragading benteng negeri galih pakuan pergi bersama. Kala itu, jika ada lift, yang melihatnya harus merem caringogo sambil tungkul. Jika tidak dianggap kasar, pasti akan mendapat Anda tidak tahu bahwa keduanya adalah penguasa, lihatlah kemapanan, siapa yang tidak takut. Dia malas, badannya besar, kumis dan janggutnya, dia pake tas bangbang semplak sampai rambutnya sepanjang bungkusannya diikat ke bungkusannya. Tubuhnya tidak memakai baju sampai terlihat jelas bahwa rambutnya jabrig, berbulu dada. Turun dengan celana yang memakai ikat pinggang sebesar sampah, Keduanya di dorong oleh gobang ngarsar hampir antel ke tanah. Jika dipikir-pikir, mata Anda terbuka lebar dan Anda bisa Ciung Wanara ada di sana untuk memberi tahu bahwa itu adalah sang duke, menyumbang untuk yang malang. Karena itu dukacita adalah ajaran Aki dan Nini Balangantrang yang mengajarkan hakikat orang yang tidak berbeda dengan karya yang sama dari Yang Maha Kuasa. Bahkan dalam bahasa Anda akan mengatakan ini-ini sama, tidak ada sopan santun, tidak kasar. Atau keberanian untuk menyentuh penguasa adalah pemegangnya, mereka adalah tumitnya. Tapi yang pasti saya diberkati dengan pendidikan dan properti!Ketika Ciung Wanara menghampiri sang duke, pakaiannya tidak biasa, tetapi diganti dengan yang jelek. Belum pakai baju pun, perutnya sengaja sobek, wajahnya berlumuran nongkrong ke Duke, yang disela untuk menanyakan suara maniak yang tampaknya peura, “Apa yang Anda ingin anak nakal mengganggu kita?”Ciung Wanara bolostrong berkata sambil tidak berbisik, “Mau ngadu ayam dengan n u Kangjeng Patih! ”“Hah, kamu berani! Punya ayam jadi berani mengadu dengan aing itu! Setelah dibunuh, ayamnya akan mati! ” Patih Purawesi mengatakan hal tersebut sambil marah karena merasa dihina oleh anak nakal tersebut.“Cobalah!” kata anak nakal itu.“BAIK! Tapi apa yang terjadi? ” saur Patih Pura-gading.“Saya tidak punya tumpangan!” periksa anak laki-laki buncir.“Ya ampun!” Patih Purawesi berkata, “Ini aku! Jika ayam layak dikalahkan, kita dipukul sepuluh kali oleh guntur ini! Tidak berani? ““Keberanian! Bagaimana jika ayamnya dikalahkan? ”“Aku tidak akan kehilangan ayam kita!”“Ya kalau ini aku,” kata bocah nakal itu lagi.“Anda memberi kami uang!” saur Patih sudah bersepakat bahwa ayam pengganti buatan Patih Purawesi dan Patih Puragading mengambil ayam yang terbaik. Bocah nakal itu diajak ke kandang ayam. Di sana arlojinya penuh. Begitu banyak orang sehingga tidak ada yang akan sampai pada anak ayam Patih Purawesi kemudian masuk gudang. Isi sup yang Anda tonton. Ayam itu tinggi, berkilau, tanda dewasa, rahangnya tebal, ekornya ramping, dan panjangnya tajam sekitar satu inci. Barang jrut ke gudang, belegender kokoréh lalu ayam seperti itu, Patih Purawesi memang lucu. “Kadang Buncir masuk ayam lagi!” CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDAAyam yang turun itu oleh bocah bengkok ditiup kepalanya sehingga dibuang ke warung. Barang soto seak dikejar oleh ayam Patih Purawesi. Si Turundul nyingcet, jol di belakang Si Jelug, kecok sirah hayak Patih Purawesi teh dipacok, jebet dibintih. Tak mau kalah, ayam jantan purawesi tiarap dan tidak bangun Anda melihat sorakan eak-eakan. Patih Purawesi bersama-sama tidak mengatakan ada pemogokan melainkan bakat yang dipermalukan oleh yang menyaksikan. Karena ayam belum dikalahkan, apalagi sampai tiduran seperti dulu. Nilai hari-hari itu ditentukan oleh ayam. Jika ayam kuat dan tidak ada yang menang maka nilai pemilik bertambah jika ayam kalah, nilai pemilik nakal itu mengambil ayamnya dari kandang, lalu menggosoknya. Arloji itu jatuh untuk melihat anak ayam telanjang. Dengan semua orang menyelidiki, tidak ada tanda-tanda ayam yang baik. Anda harus memperhatikan saat Anda menonton.“Terkadang aku bersamamu!” saur Patih Puragading. “Selalu masukkan ayammu dulu, Buncir!”Seperti sebelum anak nakal itu sebelum masuk ayam ditiup kepala dulu, Setelah ayam turun di lapak, ayam Patih Puragading masuk. Patih Puragading mengejar sop ayam jelug mengejar Si Turundul. Tapi pengejaran rikat melonjak hingga pengejaran dibatalkan. Si Turundul adalah taki-taki di belakang Si Jelug. Barang Si Jelug malik, sebrut lagi kejar. Suku Turundul yang telah taki-taki untuk memetakan kepala Si Jelug dengan yang paling banyak di sekitarnya. Ayam gading Patih Pura tergeletak di tanah. Ger sekali lagi Anda menonton sorakan. Patih Puragading baketut marah sambil mengejek energi kedua ayam sang adipati tiarap, bocah nakal itu menghampiri sang adipati untuk menuntut janji, adipati purawesi dan puragading hilang kesabarannya, ia malas ayam itu dikalahkan, kini ada jaminan. Karena itulah bocah nakal itu repot-repot dipukuli. Hanya bocah nakal yang tak lain Ciung Wanara yang bisa bersin hingga tidak dikepung oleh dua penguasa dibantu olCONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDAeh para abdi dalem. Ber dalam pengejaran, Ciung Wanara tidak ada di sana, bersembunyi untuk menenangkan diri. Kemalasan kedua penguasa itu marah. Orang-orang Majar banyak yang dikalahkan oleh bocah ada seorang bocah nakal berkelahi ayam sehingga pemenangnya sudah sampai di Kangjeng Raja Galih Pakuan. Dia segera memanggil si buatan untuk mencari bocah nakal itu. Pencarian sudah dicari di sini tapi belum ditemukan, belum ada kecerdikan bocah malang Buncir ditemukan. Cuma waktu ngobrol ke istana pujaan dengan Kangjeng Raja, bocah nakal itu mugen, hamil. Ari beralasan takut pada sang duke. Bocah nakal adalah dia yang berbicara terus terang dengan penguasa. Anda berjanji untuk memberikan uang kepada pecundang yang ingin Anda penyalahgunaan. Duke model seperti itu mengatakan dia harus tersisa ingin menyelesaikan masalah adalah asal muasal bocah nakal yang mau bergabung dengan istana. Kabarnya setelah janjiku, bocah nakal itu mau sampai ke duke palace untuk jalan raya di sana. Melihat bocah itu dengan mata terbuka lebar, dia tidak bisa menahan ketakutan oleh raja. Anak nakal saya melihat adipati jadi tenang kami sepertinya tidak diperiksa oleh raja, bocah lelaki telanjang baru itu terus terang ingin beternak ayamnya dan memiliki raja, yang telah merayakan kepada siapa pun yang belum menang. Saat ditanya apa yang terjadi, jawabannya mati rasa, matinya jasmani dan jasmani. Atas perintah raja, kataku, naiki desa harinya warga sudah kenyang di tempat menonton ayam aduan. Raja ayam saya datang untuk itu saya akan membawa dan kandang. Dari barang-barang itu keluarlah suara saudara ak-kokok dan pucak-pacok. Saya pikir Budak Buncir datang bersiul sambil menggosok ayam Si tersebut telah dipanggang setelah kedua ayam tersebut dipasangkan secara langsung. Ayam raja lebih tinggi dari ayam adipati, sambil mengusap rambut leher dongko, matanya berputar-putar karena takut dibunuh. Kecok Si Turundul dipenggal, dipukul. Ger yang menyaksikan kerumunan itu bersorak di seluruh ayam raja. Hanya dibintih agar daya tarik Si Turundul tidak goyah. Dia ragu-ragu untuk bermain dengan kepalanya jika terjadi kebingungan lagi. Kangjeng raja galih pakuan lucu melihat ayam yang begitu besar, melawan ayam turun, saya kecil seperti kurang parab lagi, tapi waktu kangjeng raja lucu jadi, tidak diketahui bahwa ayam raja dicambuk, jebet dibintih. Seperti lawan Si Turundul sejak awal, Anda tidak perlu khawatir terbunuh, begitu Anda sudah merasa cukup. Barang itu tergeletak di Raja heran tidak ada yang salah dengan itu, Patih Purawesi dan Puragading sempat ingin menjatuhkan bocah nakal itu, hanya untuk disambut oleh raja.“Hei Patih! Tidak mengerti! Ayam malas sudah dikalahkan, apa yang Anda inginkan lebih! Aku tidak akan mengingkari janjiku untuk menyerahkan kerajaan di tengah jalan. Merupakan kebiasaan bahwa Anda selalu mengadu hanya untuk menang dan kalah. Faktanya, banyak yang kehilangan kekayaan mereka dengan menggali! “Hal-hal yang terdengar tentang pernikahan raja, namun, sang duke tetap tinggal tidak mengatakan begitu Harita masih kerajaan Galih Pa¬kuan di bagian barat diserahkan kepada bocah nakal itu. Bagian timur I telah ditangkap oleh putranya Hariang suatu ketika raja mengetahui bahwa bocah nakal itu tidak lain adalah Ciung Wanara, putranya olehmu, yang diadopsi sejak bayi oleh Aki dan Nini Balangantrang. Oleh karena itu, raja berkata kepada Ciung Wanara, “Syukurlah hidep telah menjadi anak yang peduli. Dan hidep memiliki kerajaan bukan warisan, tapi hasil dari usahanya sendiri. Saya berharap kita bisa menjalankan pemerintahan, Ama ari saya dari wangkid ini mau bawa. ”Diperbarui dari buku “Jaka Gurumaya Scattering Demons”oleh Tasdik 1996 CONTOH CARITA PANTUN CIUNG WANARA BAHASA SUNDA
SitusCiung Wanara di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pangcalikan dalam bahasa Sunda berarti tempat duduk. Singgasana kerajaan Galuh dulu, ya begitu. Sage (unsur sebuah sejarah) (4) Epos (kepahlawanan) (5) Cerita jenaka. Cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Panjang
-Legenda Ciung Wanara adalah cerita rakyat Sunda, yang sangat terkenal. Cerita rakyat ini tidak hanya terkenal di Jawa Barat saja melainkan di seluruh Ciung Wanara dipercaya sebagai cerita rakyat di zaman Kerajaan Sunda Galuh. Berikut ini Legenda Ciung Wanara. Legenda Ciung Wanara Di Desa Karangkamulyan terdapat sebuah kerajaan yan bernama Kerajaan Galuh dipimpin raja yang bijaksana bernama Adimulya Sanghiang Cipta Permana Dikusumah dengan permaisuri Dewi Naganingrum. Setelah beberapa tahun menikah, Dewi Naganingrum belum dikaruniai anak. Sementara, raja telah mengidam-idamkan memiliki anak untuk penerus tahtanya. Akhirnya, permaisuri meminta raja menikah lagi. Awalnya, raja menolak, namun ia menyanggupi permintaan permaisuri dengan syarat wanita tersebut harus pilihan permaisuri. Pilihan permaisuri jatuh pada Dewi Pangreyep selir. Perintah yang awalnya ditolak itu, akhirnya diterima Dewi Pangreyep. Dari pernikahan dengan baginda raja, Dewi Pangreyep hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Hariang Banga. Baca juga Legenda Putri Lumimuut, Asal-usul Etnis Minahasa 5 Sage. Sage adalah cerita rakyat yang isinya mempunyai unsur sejarah. Tokoh-tokohnya pernah disebut dalam sejarah, tetapi lebih banyak menonjolkan unsur khayalan. Contoh dari sage, yaitu Ceita Ciung Wanara, Cerita Joko Tingkir, Cerita Hang Tuah, Cerita Calon Arang, dan lain sebagainya.
Dongeng Ciung Wanara adalah cerita rakyat Sunda yang sangat terkenal. Cerita Ciung Wanara populer di daerah Jawa Barat saja, tapi juga sudah tersebar ke seluruh Nusantara. Cerita Rakyat Ciung Wanara memiliki kemiripan dengan cerita rakyat jawa Timur yang berjudul Cindelaras Kakak pernah mempostingnya Cerita Rakyat Jawa Timur Kisah Cindelaras. Pasti adik-adik sudah sangat penasaran dengan Kisah Ciung Wanara ini. Selamat membaca. Cerita Rakyat Sunda Dongeng Ciung Wanara Pada zaman dahulu kala. Di sebuh daerah Jawa barat terdapat Kerajaan,yang bernama Kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh di pimpin oleh seorang Raja yang bijaksana. Raja tersebut bernama Raden Barma Wijaya Kusuma. Sang Raja memiliki dua Permaisuri. Permaisuri pertama bernama Nyimas Dewi Naganingrum dan yang kedua Nyimas Dewi Pangrenyep. Dalam waktu bersamaan kedua Permaisuri tersebut dalam kedaan mengandung. Suatu hari, Permaisuri Nyimas Dewi Pangrenyep melahirkan terlebih dahulu. Ia melahirkan seorang Bayi Laki-laki yang sangat lucu dan tampan. Pangeran tersebut di beri nama Hariangbanga. Tidak lama kemudian Permaisuri Dewi Naganingrum pun akan segera melahirkan. Dewi Pangrenyep bergegas untuk membantunya. Akhirnya, Dewi Naganingrum melahirkan seorang Bayi Laki-laki yang tidak kalah lucu dan tampan dari kakaknya Hariangbanga. Di balik kesediaannya menolong persalinan Dewi Naganingrum. Ternyata Dewi Pangrenyep tidak menyukain Dewi Naganingrum menjadi pesaingnya. Karena ia ingin menguasai Kerajaan dan menjadikan Putranya sebagai Raja kelak. Ia pun merencanakan niat jahatnya yang sudah ia susun agar sesuai dengan harapannya. Tanpa sepengetahuan siapapun. Bayi Laki-laki yang baru saja di lahirkan Dewi Naganingrum di tukar dengan seekor anak Anjing. Bayi yang sebenarnya di masukkan ke dalam sebuah keranjang. Dewi Pangrenyep pun meletakkan sebutir telur ayam. Ia pun segera menghayutkan bayi tersebut ke sebuah sungai. Di Kerajaan terjadi sebuah kehebohan. Kabar yang sangat mengejutkan menggemparkan seluruh isi Istana dan rakyat. Mengetahui kenyataan ini menghancurkan harga dirinya sebagai Raja. Bagaimana tidak, Permaisuri yang selama ini ia cintai sudah melahirkan seekor anak Anjing. Dalam keadaan marah. Akhirnya, Raja segera memanggil Penasehat Raja yang bernama Ki Lengser. Namun, memanggil Ki Lengser bukan untuk meminta sebuah nasihat. Tapi, memerintahkan Ki Lengser untuk segera membunuh Dewi Naganingrum dan mayatnya di buang jauh-jauh. Raja memerintahkan Ki Lengser segera melakukan tugasnya. Dalam perjalanan, Ki Lengser berpikir untuk menyelamatkan Dewi Naganingrum tanpa sepengetahuan siapapun. Ki Lengser yakin kejadian yang menimpa Dewi Naganingrum adalah suatu kebohongan. Namun, ia tidak mempunyai bukti untuk membantu Dewi Naganingrum. Ki Lengser membawa Dewi Naganingrung masuk kedalam hutan belantara. Ki Lengser membuatkan sebuah gubug untuk tempat tinggal Dewi Naganingrum. Setelah gubug itu selesai di buatnya, dengan terpaksa Ki Lengser meninggalkan Naganingrum seorang diri. Sebelum ia pergi, ia pun berjanji akan mengunjunginya. Sementara, Naganingrum sangat berharap suatu hari nanti ia dapat bertemu dengan Putra kandungnya. Ia pun berharap dapat kembali ke Istana dan hidup bahagia bersama keluarganya. Ki Lengser pun segera kembali ke istana. Ia langsung mengahadap Raja dan melaporkan bahwa tugasnya untuk membunuh Dewi Naganingrum sudah di laksanakan dengan baik. Untuk membuktikan bahwa ia sudah melaksanakan tugasnya, ia membasahi senjatanya dengan darah binatang buruan yang ia temui di dalam hutan. Sementara di suatu tempat. Hiduplah sepasang suami istri yang sudah sangat tua. Namun, mereka tidak memiliki anak. Suatu hari, mereka berdua pergi ke sebuah sungai untuk menangkap Ikan. Namun, mereka di kejutkan dengan sebuah keranjang besar berisi seorang bayi Laki-laki yang sangat lucu dan tampan. Mereka sangat bahagia dan mereka berpikir bahwa inilah sebuah jawaban dari doanya. Sepasang suami istri sangat bersyukur. Satu butir Telur Ayam yang berada di samping Bayi Laki-laki tersebut. Di simpannya telur Ayam tersebut kepada seekor Naga yang bernama Nagawiru yang berada di Gunung Padang. Naga tersebut bukanlah Naga sembarangan. Namun, jelmaan seorang Dewa dan sudah menjadi tugasnya untuk mengerami satu butir Telur Ayam tersebut. Suatu saat nanti. Telur tersebut akan menetaskan seekor Ayam Jantan dan menjadi binatang kesayangan dari anak bayi yang di temukan sepasang suami istri tersebut. Waktu tanpa terasa terus berjalan. Bayi Laki-laki, sekarang tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan, cerdas, gagah dan pemberani. Anak tersebut di beri nama Ciung Wanara. Aki dan Nini memberikan nama Ciung Wanara karena mereka melihat seekor Monyet yang aneh, Monyet tersebut bernama Wanara. Kemudian mereka pun melihat seekor Burung yang bernama Ciung. Akhirnya, keduanya sepakat. Nama dari ke dua binatang tersebut. Akhirnya, di jadikan sebagai nama anaknya. Ciung Wanara tumbuh menjadi seorang Pemuda yang sangat tampan. Suatu hari, ia ingin sekali pergi ke Galuh untuk mengembara. Awalnya, Aki dan Nini tidak menginjinkannya. Namun, karena anaknya terus memaksa. Sebelum ia berangkat ke Kerajaan Galuh, ia bertanya siapa Ayah dan Ibu kandungnya. Awalnya, Aki dan nini tidak mau menceritakan kebenarannya. Namun, Ciung Wanara terus bertanya. Aki menjelaskan bahwa Ayah kandungnya adalah seorang Raja dari Kerajaan Galuh. Dan Ibunya di asingkan di dalam hutan belantara. Mendengar penjelsan tersebut. Akhirnya, Ciung Wanara berangkat ke Kerajaan Galuh dengan membawa Ayam Jantan kesayangannya. Setibanya di kerajaan Galuh. Ia bertemu dengan dua orang Patih yang bernama Purawesi dan Puragading. Kedua Patih tersebut tertarik dengan Ciung Wanara, karena ia membawa seekor Ayam Jantan. Kedua Patih tersebut menghampiri dan mengajaknya untuk adu Ayam. Ciung Wanara menerima tantangan dari kedua Patih tersebut. Pertandingan sambung Ayam di lakukan di tengah alun-alun Kota Galuh. Akhirnya, nasib baik selalu berpihak kepada Ciung Wanara. Ayam Jantang kesayangannya menang dalam pertandingan. Kemenangan Ciung Wanara tersebut langsung tersebar ke Kerajaan. Kemenangan itu terdengar oleh Sag Raja, bahwa ada seorang Pemuda Tampan memiliki seekor Ayam Jantan yang sangat tangguh. Akhirnya, takdir mempertemukan Ayah dan anak yang sudah di pisahkan oleh perbuatan Dewi Pangrenyep. Ciung Wanara datang ke Istana untuk bertemu dengan Raja. Ia pun membuat kekacauan di depan Istana. Akhirnya, Baginda segera memerintahkan para pengawal agar Ciung Wanara menghadap. Setelah berhadapan dengan Sang Raja, Ciung Wanara pun menyembah. “Hai Anak Muda! Siapa namamu dan dari mana asalmu?” “Nama hamba Ciung Wanara, putra dari Aki dan Nini Balangantrang dari desa Geger Sunten,” jawab Ciung Wanara dengan lantang. “Apa maksud kedatanganmu kemari?” “Begini, Tuanku. Hamba mempunyai seekor Ayams yang aneh. Induknya mengandung selama setahun. Sarangnya sebuah kandaga. Lebih aneh lagi, sebelum menetas, telur ini pernah hanyut di sungai,” kata Ciung Wanara. Raja teringat pada Naganingrum yang mengandung selama setahun. Sedangkan Dewi Pangrenyep sudah mengira, bahwa yang sekarang berada di hadapannya adalah putra dari Naganingrum. Kedatangannya hendak membalas dendam. “Kau berniat untuk menyambung Ayam dengan milikku? Apa taruhannya?” tanya Raja Galuh. “Jika ayam hamba yang kalah, hamba bersedia menyerahkan nyawa hamba. Tapi sebaliknya, jika ayam baginda yang kalah, maka hamba mohon diberi separuh kerajaan Galih Pakuan,” kata Ciung Wanara. Karena raja Galih Pakuan merasa yakin, bahwa ayam jagonya akan menang, taruhan Ciung Wanara disetujui. Baginda segera membawa ayamnya ke halaman dan diikuti oleh Ciung Wanara. Pertandingan sabung Ayam pun berlangsung dengan seru. Awalnya, Ayam jantan milik Ciung Wanaralah yang menunjukkan kekalahan. Namun, tiba-tiba Ayam tersebut kembali segar dan kuat kembali. Akhirnya, dengan mudah Ayam milik sang Raja kalah terdesak. Ciung Wanara kembali memenangkan pertandingan sabung Ayam. Sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui, Ciung Wanara mendapat negara sebelah Barat. Sedangkan sebelah Timur oleh baginda diserahkan kepada Hariangbanga. Masing-masing bergelar Prabu. Akhirnya, semua rahasia tentang Ciung Wanara terungkap dan segala kejahatan yang dilakukan Dewi Pangrenyep terbongkar dengan sendirinya. Ki Lengser pun menceritakan bahwa Ibu kandungnya masih hidup dan di asingkan di sebuah hutan. Ciung Wanara sangat bahagia dan segera menjemput ibunya, ia pun menjemput kedua angkatnya. Sementara itu Dewi Pangrenyep mulai hatinya ketar ketir setelah tahu kalau Ciung Wanara adalah anak bayi yang dibuangnya dulu. Hingga akhirnya kegelisahan dan ke khawatirannya itu pun segera terjawab dan terwujud. Prabu Ciung Wanara setelah tahu apa yang telah dilakukan oleh Dewi Pangrenyep terhadap ibunda dan dirinya sendiri, maka segera membentuk pasukan khusus untuk menangkap Dewi Pangrenyep. Tanpa menemui kesulitan yang berarti Dewi pangrenyep segera tertangkap dan di jebloskan kedalam penjara istana untuk membayar segala kejahatan dan kekejiannya. Sementara Raden Hariangbanga sangat kaget ketika mengetahui kalau ibundanya tercinta telah ditangkap oleh tentara prabu Ciung Wanara dan dijebloskan ke dalam penjara. Pertarungan antara dua orang adik kakak beda ibu itupun tak dapat terelakan lagi. Pertarungan sengit terus terjadi dan raden Hariangbanga harus berlaku satria dia kalah terdesak oleh adiknya Ciung Wanara. Setelah pertarungan itu kerajaan Galuh benar benar terbagi menjadi dua. Kerajaan Galuh terbagi dua karena dalam pertarungan tubuh Hariangbanga di lempar oleh Ciung Wanara hingga menyebrangi sungai Cipamali. Dari sejak itulah Kerajaan Galuh terbagi dua. Akhirnya, Ciung Wanara, Ibunya, dan orang tua angkatnya hidup berbahagia di dalam istananya yang kemudian bernama Pakuan Pajajaran. Pesan moral dari Cerita Rakyat Sunda Dongeng Ciung Wanara adalah perbuatan buruk akan mendapatkan balasan dari keburukannya dimasa yang akan datang. Selalu berlaku baik akan membuatmu sukses dan bahagia. Baca dongeng Sunda lainnya pada artikel kami berikut ini Dongeng Si Kabayan – Cerita Rakyat Sunda Jawa Barat dan Cerita Rakyat Sunda Dongeng Lutung Kasarung
Beberapacerita rakyat tradisional menampilkan ayam hutan sebagai salah satu tokohnya. Dongeng rakyat seperti Ciung Wanara dari daerah Sunda, atau versi Jawanya yang berjudul Panji Laras aliasCinde Laras, menceritakan tokoh utama yang memiliki ayam jantan atau ayam hutan jantan yang pandai bertarung dan berkokok. Dongeng Sunda Ciung Wanara – – Matahari bersinar dari timur, bulat dan merah. Jamur mengendap di daun, berubah menjadi embun, lalu jatuh ke tanah. Dengan mendengarkan kicauan berbagai jenis burung, warga kabupaten mengiringi kaki mereka ke bukit, ladang, sawah, pasar, dan tempat mencari nafkah. Di sini semuanya berbuah dan sukses, tidak ada perang, konflik dan dosa. Mereka semua mengikuti petunjuk dari satu Tuhan, untuk hidup rukun di bumi setiap tetapi, kehidupan yang tenteram itu bukan hanya karena ketaatan warganya terhadap ajaran agama, melainkan kerajaan tersebut diperintah oleh seorang raja yang sangat arif, bijaksana dan tidak memihak. Raja Prabu Permana di Kusuma, raja sakti, besar ilmu kerajaan, bagus. Raja dikenal oleh masyarakat bahwa ia selalu mencintai rakyat negerinya, terutama rakyat miskin, ia lebih mementingkan rakyatnya dari pada kepentingan pribadinya. Itulah sebabnya tanah yang subur menjadi lebih makmur, damai dan sejahtera, penuh dengan kesehatan. Pemerintah di negeri Perhayangan mengikuti pendidikan Parmana di Kusuma memiliki dua istri; Dewi Pangreyep dan Dewi Naganingrum. Keduanya adalah wanita cantik dan cerdas, tetapi mereka memiliki kepribadian yang berbeda. Devi Pangreyep mudah marah dan cemburu, serta sombong sedangkan Devi Naganigram adalah wanita yang tenang, lembut dan baik hati. Tetapi raja memperlakukan mereka dengan adil, sehingga tidak ada pertengkaran di dalam rumah Search ResultsEk Hridiya Raja Prabu Permana de Kusumah memanggil Uwa Batara Lengsar, penasihat pemerintah. Ia ingin menunjukkan kegelisahan dalam dirinya yang selalu mengganggu penasihat pemerintah yang sudah sangat tua tetapi memiliki pikiran yang sangat tajam. Dia juga santai, tidak pernah mengambil kesempatan untuk dekat dengan raja, nasihat yang diberikan selalu sangat penting bagi rakyatnya.“Terima kasih, tapi… aku tidak bisa tenang, hidup di dunia ini sepertinya banyak siksaan bagiku. Orang miskin selalu melihat keburukan yang dilakukan orang. Ya, aku mencoba memerintah kerajaan ini tanpa batas. Mereka tahu.”“Maaf Tuan Gusti. Uwa Batara tidak mau mengikuti, tapi begitulah manusia, mereka terikat oleh keinginan, hanya orang yang lemah lembut yang bisa melawan keinginan.”Legenda Ciung Wanara Dan Unsur Intrinsiknya bahasa Indonesia & Sunda“Ini yang saya pikirkan. Saya telah mengundang Anda ke sini, agar nanti saya bersinar di kaki saya. Karena, saya telah memutuskan untuk menjadi pertapa, mengasingkan diri di hutan, bertapa di gunung, mendekat. kepada Yang Satu dan Satu-Satunya.”Uwa Batara Lengsar sangat terkejut mendengar tentang Prabu Permana di Kusuma. Ini adalah tujuan yang sangat mulia, dari semua raja yang tidak dapat berpikir untuk merendahkan diri, memisahkan diri dari gemerlapnya sehari-hari, ini akan menjadi tugas yang paling sulit. Tapi, ada yang lebih penting bagi Uwa Batara Lengsar, negeri kaya ini mau dibawa kemana tanpa raja?“Duh Gusti Tuhan, maafkan saya, ribuan hamba memohon ampun! Kerajaan Galuh yang sedang baik-baik saja akan jatuh jika Yehuwa meninggalkannya. Tidak hanya itu, musuh kerajaan akan menyerang kerajaan, dan jika Yehuwa memilih untuk berhati-hati, langit akan menjadi gelap, Galuh akan menutupi tanah kerajaan,” Uwa Batara membungkuk di hadapan Permana di Kusumah, Penguasa Permana de Kusumah bangkit dari singgasananya, menghampiri Uwa Batara Lengsar, lalu mengeluarkan tubuh Uwa Batara dari lututnya. Prabu Parmana sangat menghormati sesepuh seperti Uwa Batara Lengsar, baginya Uwa Batara adalah guru dari segala Ciung Wanara Versi Basa Sunda“Jika nanti akan terjadi hal-hal aneh di kerajaan, jangan kaget, dan pastikan bahwa saya telah meninggalkan kerajaan. Namun, saya selalu menyarankan Anda untuk berhati-hati, karena musuh yang sebenarnya ada di dalam diri Anda. Pimpinlah mereka yang pantas untuk dituntun dan peliharalah yang lemah, jangan membungkuk untuk memimpin [3].Uwa Batara menunduk, tak tahan menatap wajah raja yang dikaguminya itu. Seorang raja yang tidak pernah berhenti belajar, bekerja dan berdoa untuk keselamatan rakyat Kerajaan Galuh yang terbentang dari Hujung Kulon ujung Jawa hingga Hujung Galuh saat ini muara Sungai Brantas. Angin meniup dedaunan, embun jatuh di sungai, mereka kerajaan terkejut. Prabu Permana di Kusumah menjadi tampan, pemberani, dan awet muda, karena masih muda. Tidak ada yang tahu mengapa hal itu terjadi, sehingga masyarakat kerajaan Galuh percaya bahwa raja adalah titisan Tuhan. Namun, kejutan ini juga menimpa Menteri Aria Kebonan yang disebut-sebut menghilang entah pejabat pemerintah, termasuk Uwa Batara Lengsar, berkumpul di Belle Riung. Dia mendengar pengumuman dari penyiar, tetapi hatinya menolak apa yang diumumkan, dia tidak percaya sama sekali bahwa pemuda tampan, pemberani dan muda yang dia miliki sebelumnya adalah Rakyat Lutung Kasarung Beserta Ulasan Menariknya 2022Perbedaan penampilan dan perilaku Prabu Varma Wijaya terlihat jelas, yang membuat Uwa Batara Lengsar sulit dipercaya. Yang mereka yakini, sifat manusia tidak akan hilang meski keberadaannya Varma Wijaya tertawa keras. Ia sangat senang melihat semua pejabat pemerintah bersujud kecuali Uwa Batara Lengsar yang hanya diam dan tidak beranjak dari tempat duduknya.“Yang Mulia, saya tidak bisa berbohong, karena berbohong adalah awal kehancuran seseorang. Hati kecil saya mengatakan bahwa Yang Mulia bukanlah Parmana Di Kusumah. Sekali lagi, saya mohon maaf kepada Yang Mulia…”“Ini adalah masalah waktu kerajaan, masa lalu tidak bisa dikembalikan. Mereka yang hidup di masa lalu hanya mengingat, mereka menjadi sejarah, dan masa depan adalah masa penuh harapan, mimpi.”Sastra Lisan Sunda Mite, Fabel, Dan Iegende 1“Apakah Uwa Batara meragukan kekuatan Tuhan saja? Atau… Apakah Uwa Batara memiliki niat buruk di daerah ini?” Lord Varma Vijaya marah.“Kalau begitu, ini bukan orang bijak. Ini tidak lebih dari buah busuk. Ini monyet yang hidup di tengah ladang petani, berharap mendapat pisang, tapi dikurung.”“Nah Uwa Batara, saya sudah mengatakan bahwa Uwa Batara tidak lain hanyalah seekor monyet, hanya seekor monyet.. hahahahaha.” Prabhu Varma Vijaya tertawa terbahak-bahak, lalu menatap para menteri, dan para menteri juga tertawa Batara membungkuk, bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan Bele Ryung, kakinya goyah, hatinya terluka oleh kelakuan raja, dan dia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa Lord Varma Vijaya akan diikat seperti monyet, tidak mampu. Cukup klik tanda kurung untuk melakukan Rakyat DaerahSetiap hari itu keluar dari tangan pemerintah. Sesepuh suka mabuk dan berjudi dalam permainan ayam, ini karena Prabu Varma Wijaya yang suka bermain ayam, masyarakat Galuh telah kehilangan seorang pemimpin yang dulunya bijaksana, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin ini adalah satu satunya. hanya masyarakat Galuh yang mendengar. Hal yang sama dirasakan oleh Dewi Pangreyep dan Dewi Naganingram, sering dikritik dan dihina serta tidak diperlakukan sebagai laki-laki atau perempuan. Akibatnya, mereka kesepian dan tertekan di istana. Namun, mereka hanyalah perempuan, mereka tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya malam ketika mereka sedih dan tidur di kamar mereka. Kemudian mereka bermimpi bulan jatuh di antara kedua kaki mereka, awalnya mereka mengira itu adalah bunga yang sedang tidur. Tapi, mimpi selalu datang saat mereka tidur, membuat mereka gelisah. Dan tidak dapat menyembunyikan kegelisahan mereka, mereka menceritakan kisah itu kepada Prabhu Varma Varma Wijaya tampak enggan, namun tak pelak dipanggil Uwa Batara Lengsar, karena dialah satu-satunya penasihat kerajaan yang dipercaya oleh kedua ratu tersebut. Uwa Batara masuk ke dalam istana, berlutut di hadapan raja dan mendengarkan cerita lengkap kedua dewa tersebut. Kepalanya gemetaran, kecerdasannya sangat tajam sehingga dia tahu bahwa daerah ini menyimpan banyak Dongeng Jenis, Contoh, Nilai Moral, Dan Manfaat“Beliau adalah seorang pertapa yang tinggal di negeri parahyanga gusti, ilmu penerjemahannya sangat bagus dan beliau memiliki sifat yang sangat cerdas dan terpelajar.”Prabhu Varma Vijaya terdiam sesaat—matanya seperti memikirkan Uwa Batara. Memang selama ini dia tidak ingin biksu melakukan pekerjaan pemerintah, karena dia bisa melakukan segalanya dengan caranya prajurit dikirim untuk mencari keberadaan Azor Sucaresi, namun menemukan penyihir sakti itu tidak mudah. Raja tertekan selama beberapa hari, dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi padanya ketika dia menafsirkan mimpi itu. Mimpi itu tidak menandakan bahwa kedua dewi itu akan hamil, tetapi bagaimana bisa? Dia tidak pernah tidur dengan dua salah satu juri mengatakan hasil pencarian Azor Sucaresi sudah ditemukan. Saat pertapa sedang dalam perjalanan menuju istana, Prabu Barma memanggil semua pejabat, termasuk Vijaya Uwa Batara dan Dewi Pangreyep, Dewi Wisata Pangandaran“Mimpi ini biasa terjadi pada wanita yang akan hamil,” kata Azar Sukaresi sambil tersenyum kepada Prabu Varma yang hadir terdiam – menatap heran pada raja yang sangat bahagia. Namun Dewi Pangreyep dan Dewi Naganingrum juga resah, menyadari bahwa Lord Varma Vijaya tidak pernah menyentuhnya. Prabhu Varma Vijaya menyadari bahwa ucapannya mengejutkan para pejabat, yang pasti senang mendengar tentang kehamilan istri keduanya.“Yah… aku senang mendengarnya, tapi apakah mereka semua perempuan? Karena saya mendambakan seorang gadis,” kata Prabhu Varma Vijaya. Bahkan, dia sangat marah di dalam hatinya, karena dia tidak ingin memiliki anak yang niscaya akan merampas Varma Vijaya menjadi marah setelah mendengar jawaban biksu Ajar Sukaresi bahwa dia tidak ingin memiliki anak laki-laki yang sebenarnya merupakan tanda kehancuran diri. Dia bangkit dan mengeluarkan pedang sihirnya. Ia kemudian menikam Azor Sukaresi di bagian dada, tetapi bilahnya bengkok, tidak mampu menusuk Azor Sukaresi di bagian & Sasakala SundaSemua orang yang hadir mengelak—mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, tidak ada yang bisa melawan pedang sihir raja. Uwa Batara senang menyaksikan semua itu, kini ia yakin bahwa Prabu Varma Vijaya bukanlah Prabu Parmana di Kusumah, karena tidak ada yang bisa menggunakan mantra sakti kecuali sang raja sendiri. Namun, misteri siapakah Prabhu Varma Wijaya masih jauh dari ciung wanara, villa ciung wanara walini, dongeng ciung wanara bahasa sunda, cerita ciung wanara bahasa sunda, ciung wanara bahasa sunda, villa ciung wanara ciwidey, hotel ciung wanara puncak, dongeng ciung wanara dalam bahasa sunda, cerita dongeng ciung wanara, film ciung wanara full movie, ciung wanara ciamis, dongeng ciung wanara Selainmenulis dalam bahasa Indonesia, ia pun banyak menulis dalam bahasa Sunda. Perhatiannya terhadap sastra daerah ini amat besar seperti yang tampak dalam usahanya menghidupkan kembali pemberian hadiah karya sastra Sunda "Rancage". (1961,1977)serta dari khasanah sastra Sunda, antara lain Mundinglaya Ai Kusumah {1961), Ciung Wanara (1961 Dongeng Bahasa Sunda CIUNG WANARAKacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita teh nyaeta Prabu Barma Wijaya gaduh permaisuri hiji Dewi Naga Ningrum anu ka dua Dewi Pangrenyep. Harita duanana keur kakandungan. Barang nepi kana waktosna, Dewi Pangrenyep ngalahirkeun budak lalaki kasep jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan tiharita Dewi Naga Ningrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Dewi Pangrenyep, orokna lalaki deuih. Tapi ku Dewi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi kasaolah-olah Dewi Naga Ningrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saestuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan kaayaan kitu, sang Prabu kacida ambekna ka Dewi Naga Ningrum. Terus nitah ki Lengser supaya maehan Dewi Naga Ningrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pedah ngalahirkeun anak anjing. Dewi Naga Ningrum dibawa ku Lengser, tapi heunteu dipaéhan. Ku Lengser diselongkeun ka leuweung nu jauh ti Dayeuh kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk aki jeung nini Balangantrang. Barang aki jeung nini Balangantrang neang tataheunana, kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih – leuwih sanggeus nyaho yén dijerona aya orok lalaki anu mulus tur kasep. Gancang budak téh dirawu dipangku, dibawa kalemburna nyaeta lembur Geger Sunten sarta diaku budak téh geus gede. Tapi masih keneh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana. Nanyakeun ka aki Balangantrang. “Aki ari itu sato naon?” “Eta téh ngarana manuk Ciung Jang”.Tuluy budak téh nénjo monyet. “Ari nu itu naon aki”? Dijawab deui ku si aki. “Eta téh ngarana Wanara”. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manehna dingaranan Ciung Wanara. “Mun kitu mah ngaran kuring teh Ciung Wanara bae atuh Ki !”. Aki jeung nini Balangantrang Ciung Wanara geus jadi nu kasep sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa disileungleuman ku Naga Wiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur hiji poé, Ciung Wanara amitan ka aki jeung nini Balangantrang sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngelek hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Pura Wesi katut Patih Pura Gading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan prung waé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka Ciung Wanara papanggih jeung Lengser. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana make tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh tandona nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun raja nu éléh tandona nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun jadi raja tur diaku baé hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadeseh, terus kapaehan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi cibarani, dimandian nepi ka elingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu dating naga wiru ti gunung padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan naga wiru, hayam Ciung Wanara unggul, hayam raja éléh nepi ka jeung jangjina, Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah, ari nagara nu sabeulah deui, beulah wetan, dibikeun ka Hariang kabinekasan ki lengser, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nyaéta Dewi Naga Ningrum. Lila-lila réka perdaya Dewi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Dewi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara Banga kacida ambekna basa nyahoeun indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Dee….r atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila Hariang Banga téh kadeseh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wetaneun Cipamali. Tah tiharita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wetaneunana dicangking ku Hariang Banga. Kisahtentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang kerajaan Galuh ( sebelum berdirinya Kerajaan Dongeng Ciung Wanara adalah salah satu cerita rakyat Sunda yang terkenal di seluruh Nusantara. Legenda ini menjadi salah satu cikal bakal terpisahnya Kerajaan Galuh menjadi Pajajaran dan Majapahit dengan perbatasan Sungai Cipamali yang nantinya menjadi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jejak peninggalan Kerajaan ini masih ada di antara hutan lindung seluas 25,5 hektar dan dilestarikan sebagai cagar budaya di Situs Karangkamulyan di Wahana Wisata Ciung Wanara di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Walau ada banyak versi dongeng Ciung Wanara, namun jalan ceritanya hampir sama. Penasaran cerita lengkapnya? Berikut legenda Ciung Wanara yang benar! Artikel Terkait Ke Ciamis Yuk!! 7 Objek Wisata Di Ciamis Murah Meriah Buat Keluarga Dongeng Ciung Wanara Dimulai Dari Perginya Sang Raja untuk Bertapa Dahulu kala berdiri Kerajaan Galuh yang merupakan sebuah kerajaan besar di Pulau Jawa, karena wilayahnya dimulai dari Hujung Kulon di ujung Barat Jawa, hingga ke Hujung Galuh “Ujung Galuh” yang merupakan muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya. Kerajaan Galuh diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah yang bijak. Dia memiliki dua orang ratu, yaitu Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum. Suatu ketika, sang raja memutuskan untuk bertapa sementara waktu dan memanggil menteri Aria Kebonan untuk sementara menggantikan posisinya. Dengan syarat dia tidak boleh menggauli istri-istri raja selama menjadi raja sementara. Sang menteri bersorak girang dan menyetujui syarat tersebut. Raja mengubah Aria Kebonan menjadi sosoknya dan kemudian raja pergi meditasi dalam jangka waktu yang sangat lama. Aria Kebonan akhirnya mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Yang tahu kalau Aria Kebonan bukan raja asli adalah Uwa Batara Lengser, namun karena tidak punya bukti kuat dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kedua Ratu Hamil! Ilustrasi. Tidak berapa lama sepeninggalan sang raja yang bertapa, kedua ratu hamil. Prabu Barma Wijaya sontak kaget dan memanggil seorang pertapa bernama Ajar Sukaresi yang memastikan kalau kedua ratu memang hamil. Berarti ini adalah anak sang Raja Prabu Permana Di Kusumah, karena Prabu Barma tidak pernah menyentuh istri raja. Si pertapa berkata kalau anak kedua ratu adalah laki-laki yang salah satunya akan melengserkan Prabu Barma Wijaya. Prabu Barma tidak terima dan menghunuskan keris ke Ajar Sukaresi, dan tubuh si pertapa dibuang ke hutan yang kemudian berubah menjadi seekor naga bernama Nagawiru. Tiba Waktu Persalinan Kedua Ratu Ilustrasi. Yang pertama melahirkan adalah Dewi Pangrenyep dan dia memberi nama putranya Hariang Banga. Lalu Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum dan tiba-tiba keajaiban terjadi. Janin dalam kandungan Dewi Naganingrum yang belum lahir bisa berbicara dan mengatakan kalau Barma Wijaya melupakan banyak janjinya dengan melakukan kekejaman. Prabu Barma Wijaya kaget dan meminta Dewi Naganingrum segera pergi dari istana. Tapi karena sudah dekat waktu melahirkan, pengusiran itu pun diurungkan. Tiba waktu persalinan, Dewi Naganingrum ditutup matanya oleh Dewi Pangrenyep dengan lilin agar tidak melihat banyak darah. Namun dia menukar bayi Dewi Naganingrum dengan seekor anjing, sedangkan sang bayi dimasukkan ke dalam keranjang dan dibuang ke Sungai Citanduy. Dewi Naganingrum pun kaget ketika melihat anaknya yang berubah menjadi anjing, dia sangat sedih belum melihat bayinya sama sekali. Prabu Barma Wijaya pun mengusir Dewi Naganingrum dan memerintahkan Ki Lengser untuk membunuhnya. Uwa Batara Lengser pun tidak tega melakukan hal itu, di hutan dia membuatkan sebuah gubuk agar sang ratu Dewi Naganingrum bisa beristirahat. Dia meminta ratu agar jangan bersedih dan bersembunyi dulu di dalam hutan agar tidak dibunuh Prabu Barma Wijaya. Dia pulang dengan membawa pakaian ratu yang dilumuri dengan darah binatang sebagai bukti sudah membunuh. Ciung Wanara Ditemukan Sepasang Suami Istri yang Belum Punya Anak Di tepian Sungai Citanduy Desa Geger Sunten, bayi yang dibuang itu ditemukan oleh pasangan suami istri lanjut usia yang sedang menangkap ikan. Keduanya sangat bahagia dan membawanya pulang ke rumah. Saat mulai besar, anak itu bertanya tentang monyet dan burung yang dilihatnya di hutan. Akhirnya si anak dinamakan Ciung Wanara yang berarti Ciung artinya burung dan Wanara artinya monyet. Dongeng Ciung Wanara yang berkisah tentang Pemuda Gagah dan Tampan Ciung Wanara tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Bahkan menjadi idola di desanya, namun karena merasa berbeda dengan wajah suami istri yang mengasuhnya sejak bayi, dia bertanya dengan sopan asal usulnya. Suami istri tersebut akhirnya menceritakan kalau dia adalah bayi yang ditemukan di tepian sungai Citanduy dan bukan berasal dari desa tersebut. Kemungkinan arus sungai yang membawanya ke desa Geger berasal dari daerah Galuh. Ciung Wanara ingin mencari keberadaan orang tuanya dan hendak berangkat ke pusat kerajaan Galuh. Sebelum berangkat, suami istri tersebut memberinya sebuah telur dan memintanya menemukan unggas agar bisa menetaskannya. Namun dalam perjalan dia tidak berjumpa dengan unggas malah bertemu dengan Nagawiru yang tidak lain adalah jelmaan Ajar Sukaresi sang pertama. Nagawiru pun mengerami dan menetaskannya sehingga ayam tersebut tumbuh dengan cepat nan kuat. Lomba Sabung Ayam Berhadiah Kekuasaan Saat di kota, ternyata masyarakatnya suka dengan kegiatan sabung ayam. Melihat ayamnya sehat dan kuat, Ciung Wanara mengikutkan perlombaan sabung ayam berkali-kali. Dan hebatnya, ayam Ciung Wanara selalu menang. Di kota dia bertemu dengan tukang pandai besi yang akhirnya mengangkatnya menjadi anak. Prabu Barma Wijaya memang terkenal suka sabung ayam dan memiliki ayam jagoan bernama Si Jeling. Tidak heran kalau masyarakatnya juga senang dengan kegiatan sabung ayam. Biasanya ayam sang raja tidak pernah kalah, namun karena mendengar kalau ada pemuda yang ayamnya selalu menang dia pun penasaran dan ingin sabung ayam dengannya. Pemuda itu tidak lain adalah Ciung Wanara. Uwa Batara Lengser mencari Ciung Wanara karena Prabu Barma Wijaya memintanya untuk menyampaikan kalau raja ingin adu sabung ayam dengan ayam Ciung Wanara. Saat itu Uwa Batara Lengser langsung tahu kalau dia adalah bayi Dewi Naganingrum yang sudah menjadi pemuda dewasa tampan dan berwibawa. Uwa Batara Lengser pun menceritakan asal usul pemuda tersebut, Ciung Wanara sangat sedih dan ingin membalas perbuatan Prabu Barma Wijaya. Dia pun menyanggupi tantangan sabung ayam Prabu Barma Wijaya dan meminta hadiah apabila ayamnya menang maka separuh kerajaan harus diberikan padanya. Prabu Barma Wijaya menyanggupi permintaan tersebut. Dan tibalah waktu perlombaan, ternyata si Jeling kalah sama ayam Ciung Wanara. Prabu Barma Wijaya pun menepati janjinya untuk memberikan setengah kerajaan padanya. Kisah Balas Dendam dalam Dongeng Ciung Wanara Ciung Wanara ingin menghukum Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep. Karena itu dia mengundang keduanya ke kerajaan barunya dan melihat sel penjara yang baru dibangunnya. Ketika mereka berada di dalam penjara, Ciung Wanara langsung menguncinya dari luar. Dan dia akhirnya membongkar semua kejahatan Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep kepada masyarakat. Hariang Banga, putera Dewi Pangrenyep, sangat terkejut dengan penangkapan ibunya. Akhirnya dia dan tentara pengikut setianya menyerang Ciung Wanara. Pertempuran sengit pun tidak terelakkan lagi. Apalagi mereka berdua adalah pangeran yang kuat dan memiliki keahlian berperang yang tinggi. Pertempuran ini berlangsung sangat lama karena keduanya sama-sama kuat. Sang Raja Kembali Dari Pertapaan Ketika sedang bertempur di daerah sungai, Ciung Wanara mendorong tubuh Hariang Banga ke seberang sungai. Namun tiba-tiba muncul Raja Prabu Permana Di Kusumah didampingi oleh Ratu Dewi Naganingrum dan Uwa Batara lengser. Sang raja berteriak memarahi kedua anaknya itu karena pertempuran adalah hal yang pamali apalagi berperang dengan saudara sendiri. Agar adil, sang raja yang kembali dari bertapa tersebut membagi kedua wilayah kerajaan Galuh. Ciung Wanara akan memimpin kerajaan Galuh dan Hariang Banga mendirikan kerajaan baru di timur sungai Brebes yang sekarang menjadi Sungai Pamali. Pamali dalam bahasa Sunda artinya adalah tabu atau dilarang. Dan karena itulah muncul Sungai Cipamali atau Sungai Pamali sebagai perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hariang Banga yang pindah ke timur menjadi Jaka Susuruh dan mendirikan kerajaan Jawa yang merupakan cikal bakal Majapahit yang terkenal. Sedangkan Ciung Wanara menjadi raja Sunda di Kerajaan Galuh. Sekarang sudah tahu ya Parents cerita lengkap tentang dongeng Ciung Wanara sejarah Sunda yang melegenda. Ternyata memang harus mengajarkan pada anak untuk selalu berbuat baik dan jangan lemah karena kekuasaan. Jangan lupa untuk menceritakan legenda ini pada anak ya Parents, agar anak tahu dongeng Ciung Wanara! Baca Juga Salah Satu Cerita Rakyat Jawa Barat Terkenal, Inilah Dongeng Terbentuknya Situ Bagendit Ajarkan Pentingnya Kecerdasan kepada Anak dari Dongeng "Kambing, Beruang, dan Harimau" Dongeng Sebelum Tidur, Kumpulan Cerita Sarat Nilai Moral Untuk Anak Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android. DongengBahasa Sunda Si Kabayan Ngala Nagka. Berikut ini adalah salah satu contoh Carita Pondok (carpon) tentang Si Kabayan dan artinya dalam bahasa sunda lemes (halus). Dina hiji mangsa, si Kabayan keur leleson bari

Kacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita téh nya éta Prabu Barma Wijaya kusumah. Anjeunna boga permaisuri dua. Nu kahiji Déwi Naganingrum, ari nu kadua Déwi Pangrenyep. Harita duanana keur nepi kana waktuna, Déwi Pangrenyep ngalahirkeun. Budakna lalaki kasép jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan ti harita, Déwi Naganingrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Déwi Pangrenyep. Orokna lalaki deuih. Tapi ku Déwi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi ka saolah-olah Déwi Naganingrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saéstuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan kaayaan kitu, Sang Prabu kacida ambekna ka Déwi Naganingrum. Terus nitah Ki Léngsér supaya maéhan Déwi Naganingrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pédah ngalahirkeun anak anjing. Déwi Naganingrum dibawa ku Léngsér, tapi henteu dipaéhan. Ku Léngsér disélongkeun ka leuweung anu jauh ti dayeuh kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk Aki jeung Nini Balangantrang. Barang Aki jeung Nini Balangantrang néang tataheunanana kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih-leuwih sanggeus nyaho yén di jerona aya orok alaki anu mulus tur kasép. Gancangna budak téh dirawu dipangku, dibawa ka lemburna nya éta Lembur Geger Sunten, sarta diaku budak téh geus gedé. Tapi masih kénéh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki Balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana, nanyakeun ka Aki Balangantrang ngaranna éta manuk. Dijawab ku Aki éta téh ngaranna manuk ciung. Tuluy nénjo monyét. Nanyakeun deui ngaranna. Dijawab deui ku Si Aki, éta téh ngaranna wanara. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manéhna dingaranan Ciung Wanara. Aki jeung Nini Balangantrang Ciung Wanara geus jadi pamuda anu kasép sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa, disileungleuman ku Nagawiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur hiji poé, Ciung Wanara amitan ka Aki jeung Nini Balangantrang, sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngélék hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Purawesi katut Patih Puragading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan. Pruk baé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka Ciung Wanara papanggih jeung Léngsér. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana maké tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh, tandonna nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun hayam raja nu éléh, tandonna nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun raja tur diaku baé atuh hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadéséh, terus kapaéhan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi Cibarani, dimandian nepi ka élingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu datang Nagawiru ti Gunung Padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan Nagawiru, hayam Ciung Wanara unggul. Hayam raja éléh nepi ka jeung jangjina Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah. Ari nagara anu sabeulah deui, beulah wétan dibikeun ka Hariang kabinékasan Ki Léngsér, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nya éta Déwi Naganingrum. Lila-lila réka perdaya Déwi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Déwi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara Banga kacida ambekna basa nyahoeun yén indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Der atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila mah Hariang Banga téh kadéséh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wétaneun Cipamali. Tah, harita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wétaneunana dicangking ku Hariang Sastra Sunda, karya Drs. Budi Rahayu Tamsyah.

.
  • w4meuu37uq.pages.dev/303
  • w4meuu37uq.pages.dev/416
  • w4meuu37uq.pages.dev/130
  • w4meuu37uq.pages.dev/383
  • w4meuu37uq.pages.dev/411
  • w4meuu37uq.pages.dev/9
  • w4meuu37uq.pages.dev/219
  • w4meuu37uq.pages.dev/156
  • cerita ciung wanara dalam bahasa sunda